Marina Kusumawardhani: Kembali untuk Menyebar Optimisme
foto: istimewa

Prihatin dengan kondisi politik, Marina rela meninggalkan ‘kenyamanannya’ demi menyebar optimisme.

Sedikit orang Indonesia yang kembali ke Tanah Air bila sudah memiliki pekerjaan mapan di negeri orang. Satu yang sedikit itu adalah Marina Kusumawardhani. Perempuan berhijab yang selama ini bekerja di Austria itu kembali ke Indonesia untuk menjadi relawan pasangan calon presiden-wakil presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Dalam perbincangan dengan Wajah Indonesia, kepulangannya ke Indonesia berawal dari keprihatinannya terhadap kondisi politik di Indonesia. Ia mendukung Jokowi-JK karena ia melihat ada harapan baru yang harus didukung. Bersama sejumlah teman alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) dan para pekerja di industry kreatif, ia menginisiasi Generasi Optimis Indonesia (GOI). GOI tak sekadar membuat materi kampanye secara kreatif tetapi juga menyebarkan optimisme ke seluruh Indonesia.

Perempuan kelahiran 30 Agustus 1983 ini menorehkan sejumlah catatan membanggakan dalam perjalanan karirnya. Lulusan Teknik Industri dari Institut Teknolog Bandung ini, lulus cum laude dari Technical University of Vienna, Austria. Sejumlah lembaga internasional pernah menjadi tempat ia mencurahkan segenap kemampuan, yang memberi Marina kesempatan untuk melanglang buana bekerja di sejumlah negara di benua Eropa, Asia  hingga negara-negara di Afrika serta Timur Tengah.

Di tengah kesibukan dan jadwal padat, Marina masih sempat meluangkan waktu untuk hobi menulis. Tiga buku lahir dari tangan dinginnya. Yaitu Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1000 Dolar, Jingga-buku yang dilatarbelakangi perjalanan spiritual dan pencarian makna hidup ke India dan Thailand, serta buku Electricity and Heat Production from Organic Waste Materials yang diterbitkan oleh Lambert Academic Publishing.

Pemberdayaan Kaum Papa

Proyek yang ia tangani di berbagai negara, fokus pada mereka yang berada pada level bottom of population alias mereka yang berada di bawah garis kemiskinan ekstrem. Ketertarikan dirinya untuk membantu mereka yang sangat miskin dalam menciptakan sumber pendapatan baru, menjadi jalan pembuka untuk bekerja bersama peraih Nobel Muhammad Yunus yang mencetuskan konsep Grameen Bank untuk kaum tak berpunya.

Marina pun mencetuskan ide Social Business Academy yang didasari keyakinan potensi besar generasi muda untuk menelurkan bisnis model yang bermanfaat secara sosial (social entrepreneur).  Dengan dukungan Muhammad Yunus sebagai advisory board, beberapa menteri di Austria serta sejumlah konsultan senior di PBB, Marina meluncurkan Generation Social  tahun lalu.

Lewat Generation Social, ia terbang ke Palestina dan menggagas proyek energi dengan kaum muda di sana yang mencatat angka tertinggi dunia untuk generasi muda tanpa pekerjaan. Ia juga terbang ke Uganda untuk memberikan pelatihan bagi para mantan tentara yang mengnggur untuk mencetak energy –entrepreneur.

‘Buat saya, akan membantu (ketika akan melakukan pekerjaan) kalo mikirnya principled-work. Soalnya jadi enjoy. Dan kita  akan sortir hal-hal yang worthed  untuk dikerjain dari. Sebelum mulai aktivitas apapun aku selalu  nanya 4 hal ini: Is it important? (value/principle).  Does someone need it? (market). Has anyone else done it? (competitor => partner). How to do it fast? (efficiency/20-80 principle’

Smart-Work

Bagi Marina yang menyukai traveling, memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan menyusun skala prioritas dan metode kerja yang efektif adalah keharusan. Inilah yang menjadi kunci kemampuan dirinya untuk mengerjakan berbagai hal, namun masih memiliki waktu menikmati hobi.

Seperti saat ia berniat menulis buku. Sebelum menulis hingga tuntas, ia merancang konsep terlebih dahulu dan menawarkan kepada penerbit. Setelah konsep disetujui oleh penerbit, barulah ia menulis halaman demi halaman. Tak heran, buku perjalanan keliling Eropa ia selesaikan dalam waktu 1,5 bulan dan menjadi best seller. Dalam waktu 3 minggu, cetakan pertama bukunya ludes hingga cetak ulang sebanyak 8 kali. Sedangkan buku Jingga ia selesaikan dalam waktu 2 bulan saja.

“Kalo ada sesuatu yang kudapat dari hasil pencarian dan traveling, yang paling signifikan adalah merasa kalau segala sesuatu di dunia ini saling terkait. Jadi gak ada batasan antara aku dan orang lain, apapun agamanya maupun status ekonominya. Jadi mengerjakan aktivitas non profit (seperti yang ia lakukan: Red) gak ada kebanggan juga. Karena segala sesuatu adalah untuk panggilan diri sendiri karena merasa terkait satu dengan yang lain”.