Cerpen: Melukis Senja

  • Whatsapp

SASTRA, Wajahindonesia.com – Senja menyusut pergi, berganti awan kelabu. Rintik mulai mengguyur kota. Di sudut cafe bernuansa putih, Donny melepaskan penatnya, penat yang ia rasakan beberapa bulan terakhir.

Matanya sayu, memandang kosong layar komputer jinjing yang selalu ia bawa. Terputar pula lagu milik Budi Doremi – melukis senja. lagu itu begitu terngiang-ngiang di kepala Donny.

Lagu itu adalah lagu terakhir yang ia nyanyikan untuk ayahnya, orang yang mengajari Donny cara menikmati hidup, cara bertahan, cara menjadi dewasa dan cara merelakan. Untuk yang terakhir, Donny belum dapat mempraktikan dalam kehidupannya.

Lagu itu ia putar berulang-ulang, sembari pula ia mengulang memori-memori kebersamaan bersama sang ayah tercinta. lagu yang liriknya ia dedikasian untuk perjuangan sang ayah yang telah membesarkan dirinya, dan membuat ia mengerti arti kehidupan yang sesungguhnya.

Namun kembali, Donny masih belum bisa menguasai pelajaran terakhir, merelakan. Ia belum bisa merelakan separuh dunianya pergi. Orang yang selalu ada untuknya, dan membawa keceriaan disetiap sedihnya.

Sang ayah telah pergi, meninggalkan Donny, ibunya, dan ketiga adiknya.

Ah salah, bukan pergi, ayahnya akan selalu ada dalam lubuk hatinya. Hanya saja ia tak lagi dapat berjumpa dengan jasatnya. Hanya petuah baik dan motivasi hidup darinya yang masih bersemayam di dunia.

*izinkan ku melukis senja, mengukir namamu disana, mendengar kamu bercerita menangis tertawa*

lagu itu begitu tajam menusuk di hatinya, matanya yang sayu kini berkaca-kaca. Usia Donny kini hampir memasuki seperempat abad. Usia yang matang untuk menjalin hubungan yang serius dengan seseorang.

Tapi kini, Donny tak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri, sepeninggalan sang ayah, ia harus menjadi penopang dari ibu dan ketiga adiknya. Ego diri harus ia gadaikan terlebih dahulu. Beban yang ia pikul saat ini jauh lebih berat dari sebelumnnya.

*Biar ku lukis malam, bawakanmu bintang-bintang, tuk temani mu yang terluka, hingga kau bahagia*

Hal yang ingin Donny lakukan saat ini adalah membuat seluruh keluarganya bahagia, ia hanya ingin melihat senyum orang-orang yang ia cintai. meskipun ia harus menambal lubang besar seusai kepergian sang ayah. Disisi lain, ia selalu berusaha menjadi karang yang kokoh untuk menopang keluarganya.

Lagu itu berakhir, tapi tidak kehidupan Donny. Ia masih bernapas, yang berarti ia harus segera meninggalkan kesedihannya dan belajar lagi cara merelakan. hal yang belum tuntas ia pelajari dari ayahnya tercinta.

 

Penulis: Ahmad Rif’an Muzaqi


banner

Pos terkait