OPINI: Limbah Batubara Berpotensi Jadi Sumber Energi Baru Terbarukan

  • Whatsapp
Roy Wangintan

WAJAHINDONESIA.COM – Komposisi komoditas minyak (20%), gas (30%), batubara (33%), serta energi baru dan terbarukan (17%) merupakan Kebijakan energi nasional menetapkan target bauran energi primer di Indonesia pada tahun 2025. Listrik adalah pengkonsumsi terbesar energi dan diperkirakan akan terus meningkat didorong oleh pembangunan ekonomi dan populasi yang tumbuh cepat.

Untuk dapat menyeimbangkan permintaan energi ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan target untuk pembangkit listrik hingga 135,5 GW pada tahun 2025, dituangkan dalam Peraturan Presiden (PerPres) No.22/2017.

Peningkatan konsumsi batubara yang signifikan di sektor pembangkit listrik dari 56 juta ton pada 2006 menjadi 123,2 juta ton pada 2025 akan menghasilkan 11,38 juta ton limbah batubara Fly Ash dan Bottom Ash (FABA). FABA merupakan Limbah Pembakaran Batubara.

Abu terbang (fly ash) didefinisikan sebagai butiran halus hasil residu pembakaran batubara yang merupakan hasil penguraian mineral silikat, sulfat, sulfida, karbonat, dan oksida yang terdapat dalam batubara (ASTM C.618).

Sedangkan Bottom Ash merupakan limbah pembakaran batubara yang mempunyai ukuran partikel lebih besar dan lebih berat dari pada fly ash, sehingga Bottom Ash akan jatuh pada dasar tungku pembakaran (boiler) dan terkumpul pada penampung debu (ash hopper) lalu dikeluarkan dari tungku dengan cara disemprot dengan air untuk kemudian dibuang atau dipakai sebagai bahan tambahan pada industri atau kegiatan lainnya.

Abu hasil pembakaran merupakan hasil penguraian mineral silikat, sulfat, sulfida, karbonat, dan oksida yang terdapat dalam batubara Limbah fly ash &Bottom Ash mengandung unsurunsur arsenic (As), barium (Ba), berrylium (Be), boron (B), cadmium (Cd), chromium (Cr), cobalt (Co), copper (Cu), fluorin (F), lead (Pb), mangan (Mn), nikel (Ni), selenium (Se), strontium, thalium (Th), vanadium dan zinc (Zn).

FABA berpeluang untuk dijadikan sumber energi baru terbarukan (EBT) di tengah perkembangan teknologi yang saat ini sudah bisa menjadikan FABA sebagai substitusi bahan baku produk industri. FABA bisa dimanfaatkan menjadi produk industri atau substitusi bahan baku.
Indonesia mempunyai banyak peluang untuk memanfaatkan berbagai sumber energi di luar fosil dan batubara, yakni energi baru dan terbarukan.

Industri manufaktur berperan penting dalam implementasi konsep ekonomi berkelanjutan (circular economy), sehingga pemanfaatan FABA mempunyai kontribusi besar dalam penerapan pola produksi dan konsumsi berkelanjutan.

Pemanfaatan FABA sebagai substitusi bahan baku maupun substitusi sumber energi sejalan dengan standar industri hijau yang bisa berperan meningkatkan daya saing sektor manufaktur, sesuai implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0. FABA dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat, seperti genteng dan paving block.

Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai turunan Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibuslaw, pengusaha dapat memaksimalkan peluang dan tidak lagi mengalami kesulitan untuk melewati prosedur terkait pemanfaatan kembali limbah batubara tersebut karena limbah tersebut bukan kategori Limbah B3.

Tetapi perlu dicatat bahwa Fly Ash dan Bottom ash (FABA) yang termasuk Kategori limbah non B3 sesuai Lampiran XIV PP Nomor 22 Tahun 202 adalah kode N106 dan N107, Fly Ash dan Bottom Ash yang merupakan Proses pembakaran batubara pada fasilitas pembangkitan listrik tenaga uap PLTU atau dari kegiatan lain yang menggunakan teknologi selain stocker boiler dan/atau tungku industri, yaitu abu yang dihasilkan dari sistem pembakaran dengan sistem pulverized coal (PC) boiler.

PC boiler adalah bejana tertutup untuk proses pembakaran yang mengubah air menjadi uap panas yang bertekanan tinggi yang dalam proses pembakarannya menggunakan bahan bakar batu bara yang dihaluskan terlebih dahulu.

Pemanfaatan Limbah non B3 sebagai bahan baku yaitu pemanfaatan Limbah non B3 FABA batubara dari kegiatan PLTU dengan teknologi boiler minimal CFB (Circulating Fluidized Bed) dimanfaatkan sebagai bahan baku kontruksi pengganti semen pozzolan serta FABA dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Substitusi semen, jalan, tambang bawah tanah. Serta restorasi tanah.

Sebagaimana diketahui Batubara telah dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk menggantikan penggunaan minyak dan gas bumi yang sebelumnya sangat membebani APBN.

sejumlah industri seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), petrokimia, semen dan pupuk serta industri manufaktur lain juga mulai mengganti sumber energinya ke batubara. Termasuk juga PT PLN (Persero) banyak membangun PLTU yang energi primernya adalah batubara.

Tingginya penggunaan batubara, maka FABA akan menggunung. Dan tentu adalah potensi nilai ekonomi. Hal ini tentu memberikan peluang sekaligus tantangan tersendiri bagi para pengusaha muda. untuk dapat memanfaatkan peluang dari permasalahan limbah FABA sebagai substitusi sumber daya masa depan.

Penulis: Roy Wangintan (Wakil Ketua Satgas Energi HIPMI Bidang Energi Baru Terbarukan Konservasi Energi (EBTKE) dan Bidang Perhubungan dan BUMN BPP HIPMI)


banner

Pos terkait